Ketua YPWI Dorong Guru BP/BK Bertransformasi Jadi Pendamping Bakat dan Masa Depan Siswa

Dalam kegiatan ini berharap guru BP/BK tidak lagi diposisikan hanya di ruang konseling, tetapi menjadi mitra strategis kepala satuan pendidikan dalam menyusun kebijakan sekolah.

MAKASSAR WAHDAHEDU.COM — Ketua YPWI, Nursalam Siradjuddin, mendorong guru Bimbingan dan Penyuluhan/Bimbingan Konseling (BP/BK) untuk bertransformasi dari sekadar penanganan masalah siswa menjadi pendamping pengembangan potensi dan bakat peserta didik. Hal itu disampaikannya dalam Workshop Peningkatan Kompetensi Guru BP/BK, Minggu (11/5/2026).

Dalam sambutannya, Nursalam menilai selama ini peran guru BP/BK masih identik sebagai “pemadam kebakaran” yang baru hadir ketika siswa mengalami masalah, seperti sering bolos, depresi, atau pelanggaran lainnya.

“Melalui workshop ini, saya berharap peran Guru BP/BK bertransformasi dari yang reaktif menjadi proaktif. Bukan lagi menunggu anak bermasalah, tetapi menjadi Student Talent Coach yang memetakan potensi, minat, dan bakat anak dengan data psikologi,” ujarnya.

Menurutnya, tugas guru BP/BK saat ini tidak hanya menyelesaikan persoalan siswa, tetapi juga mendesain keunggulan setiap peserta didik. Ia menegaskan pendekatan terhadap siswa harus berubah dari sekadar mempertanyakan kenakalan menjadi menggali potensi yang belum tersalurkan.

Selain itu, Nursalam juga menekankan pentingnya penggunaan data dalam pendampingan siswa. Ia berharap setiap guru BP/BK memiliki Student Profiling Map atau peta profil siswa yang memuat data psikologi, gaya belajar, kecerdasan majemuk, potensi karier, hingga tingkat stres peserta didik.

“Saat wali kelas bertanya jurusan yang cocok untuk seorang siswa, Guru BP/BK harus bisa menjawab berdasarkan data, bukan kira-kira. Masa depan anak harus ditentukan berdasarkan ilmu, bukan intuisi,” katanya.

Lebih lanjut, ia berharap guru BP/BK tidak lagi diposisikan hanya di ruang konseling, tetapi menjadi mitra strategis kepala satuan pendidikan dalam menyusun kebijakan sekolah.

Menurutnya, hasil asesmen dan data psikologi siswa harus menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan pendidikan di sekolah. Ia mencontohkan, jika mayoritas siswa memiliki gaya belajar kinestetik, maka metode pembelajaran perlu disesuaikan. Begitu pula jika banyak siswa mengalami stres akibat jadwal pelajaran yang padat, maka sekolah perlu melakukan evaluasi terhadap sistem pembelajaran.

“Guru BP/BK harus naik kelas, dari ruang BP/BK ke ruang kebijakan sekolah. Karena yang paling memahami isi hati dan pikiran murid adalah Guru BP/BK,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Nursalam mengajak seluruh peserta workshop menjadikan kegiatan tersebut sebagai momentum perubahan dalam menjalankan peran sebagai pendidik dan pembimbing siswa.

“Pulanglah sebagai Student Talent Coach yang baru. Anak-anak YPWI menitipkan masa depannya di tangan Bapak dan Ibu. Jangan kecewakan mereka,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *