YOGYAKARTA WAHDAHEDU.COM-Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mohammad Syifa Amin Widigdo, menegaskan bahwa Naquib Al-Attas adalah salah satu dari sedikit pemikir Muslim modern yang berhasil membangun sistem pemikiran yang utuh, tentang ilmu, sejarah, kritik terhadap sekularisme, pendidikan, hingga adab.
Pandangan itu ia sampaikan di Honderhome Library, Jumat (24/04), yang menurutnya, sosok seperti Al-Attas tidak hanya hadir sebagai sarjana besar, tetapi sebagai arsitek intelektual yang membangun bangunan pemikiran secara menyeluruh.
Untuk memahami posisi Al-Attas dalam peta pemikiran Islam modern, Syifa membandingkannya dengan sejumlah tokoh besar Indonesia seperti Harun Nasution, Nurcholish Madjid, dan Hamka. Harun Nasution dikenal kuat dalam rehabilitasi rasionalitas Islam melalui gagasan Islam rasional. Nurcholish Madjid menonjol dalam upaya mengharmonikan keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan di ruang publik modern. Sementara Buya Hamka menghadirkan sintesis ulama, sastrawan, mufasir, pemikir moral, dan dai.
Namun, menurut Syifa, Al-Attas bergerak lebih dalam dari sekadar pembaruan wacana. Ia masuk ke akar persoalan: dengan pandangan alam seperti apa umat Islam memahami ilmu, manusia, dan realitas. Jika tokoh lain berbicara tentang reformasi Islam, Al-Attas berbicara tentang reformasi dasar pengetahuan itu sendiri.
Karena itu, dalam buku The Shapers of Southeast Asian Islam, Khairudin Aljunied menempatkan Al-Attas sebagai seorang “desekularis”, yakni pemikir yang menjadikan kritik atas sekularisme sebagai poros utama bangunan intelektualnya.
Secara biografis, Al-Attas lahir di Bogor pada 1931. Ia menempuh pendidikan di dunia Melayu, lalu melanjutkan studi ke tingkat internasional melalui University of Malaya, McGill University, hingga meraih gelar doktor dari SOAS University of London. Pengalaman akademik itu membuatnya mengenal Barat dari dalam, tetapi tidak tunduk secara intelektual kepadanya.
“Karena itu kritik Al-Attas terhadap Barat bukan kritik reaktif, bukan sentimen anti-modernitas,” jelas Syifa.
Kritiknya bergerak pada level terdalam: worldview, epistemologi, dan asumsi dasar tentang manusia serta ilmu. Ia tidak menulis serpihan gagasan, tetapi membangun arsitektur intelektual yang sistematis.
Kontribusi Al-Attas
Salah satu kontribusi besar Al-Attas yang kerap kalah populer dari tema islamisasi ilmu adalah kajiannya tentang sejarah intelektual Islam Nusantara melalui disertasinya The Mysticism of Hamzah Fansuri. Dalam karya itu, ia menunjukkan bahwa Hamzah Fansuri bukan sekadar penyair sufi, tetapi figur penting dalam pembentukan bahasa intelektual Melayu dan proses islamisasi di Kepulauan Melayu.
Bagi Al-Attas, islamisasi Nusantara bukan hanya perpindahan agama, tetapi transformasi konsep, makna, dan bahasa. Ia juga menelaah polemik antara Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-Raniri dengan disiplin filologis dan konseptual yang ketat.
Namun, nama Al-Attas paling dikenal melalui kritiknya terhadap sekularisme. Menurutnya, sekularisme bukan sekadar pemisahan agama dan negara, melainkan sistem pandang yang memengaruhi cara manusia memahami ilmu, realitas, nilai, bahkan dirinya sendiri.
“Inilah tesis besarnya,” ujar Syifa. Ilmu tidak pernah sepenuhnya netral. Ketika umat Islam mengambil ilmu modern Barat tanpa memeriksa worldview di baliknya, yang masuk bukan hanya metode, tetapi juga asumsi-asumsi sekular tentang manusia, kebebasan, alam, dan kebenaran.
Akibatnya, lahirlah apa yang oleh Al-Attas disebut sebagai krisis kebenaran, kekacauan ilmu, dan kebingungan intelektual umat. Persoalannya bukan sekadar “Barat salah”, tetapi umat Islam memakai instrumen pengetahuan yang dibentuk oleh peradaban lain, lalu heran ketika kehilangan arah.
Dari sinilah lahir gagasan terkenalnya tentang islamisasi ilmu, yang kerap disalahpahami. Syifa menegaskan, islamisasi ilmu bukan sekadar menempelkan ayat Al-Qur’an pada semua disiplin ilmu, bukan ayatisasi, bukan slogan religius, dan bukan pula anti-sains.
Dalam logika Al-Attas, islamisasi ilmu adalah proses membebaskan ilmu dari asumsi-asumsi sekuler yang tersembunyi di dalamnya, lalu menatanya kembali berdasarkan konsep-konsep kunci Islam tentang manusia, jiwa, akal, realitas, dan tujuan hidup. Ini bukan proyek kosmetik, melainkan reorientasi epistemologis.
Meski demikian, warisan ini juga tidak luput dari kritik. Sarjana Malaysia Muhammad Faisal Musa menilai proyek islamisasi ilmu di Malaysia tidak berhenti di ruang akademik, tetapi masuk ke arus utama negara dan dalam pembacaan tertentu ikut memperkuat konservatisme intelektual serta kecenderungan eksklusif. Warisan Al-Attas, karenanya, besar sekaligus diperdebatkan.
Tujuan Pendidikan
Bagi Syifa, warisan paling tahan lama Al-Attas justru bukan istilah islamisasi ilmu, melainkan satu kata: adab.
Dalam Aims and Objectives of Islamic Education, Al-Attas menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menghasilkan “good man”, manusia yang baik—bukan sekadar tenaga kerja, warga yang patuh, atau individu kompetitif di pasar kerja.
Manusia yang baik itu adalah manusia beradab. Adab, menurut Al-Attas, bukan sekadar sopan santun, tetapi kemampuan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat: Tuhan pada posisi ketuhanan-Nya, wahyu pada otoritasnya, akal pada fungsi dan batasannya, ilmu pada hierarkinya, dan manusia pada tanggung jawab moralnya.
Karena itu, tujuan pendidikan bukan sekadar ta’lim atau transfer pengetahuan, bukan hanya tadris atau pengajaran, tetapi ta’dib—membentuk manusia yang beradab.
“Al-Attas mengatakan krisis besar umat Islam sebenarnya adalah kehilangan adab. Dari situlah lahir kekacauan ilmu, kepemimpinan palsu, dan ketidakadilan,” kata Syifa.
Menurutnya, diagnosis ini sangat tajam. Masalah umat bukan semata kurang pintar, tetapi kehilangan tata susun moral-intelektual untuk memahami ilmu secara benar.
Syifa pun merumuskan posisi Al-Attas secara singkat: ia adalah pemikir Islam modern di Asia Tenggara yang paling sistematis dalam menjadikan desekularisasi ilmu sebagai jalan pembaruan peradaban.
Warisan terbesarnya bukan hanya kritik atas Barat dan sekularisme, tetapi upayanya mengembalikan ilmu kepada tauhid, serta mengembalikan pendidikan kepada adab.
“Maka ketika Al-Attas wafat, yang hilang bukan sekadar seorang profesor. Yang hilang adalah satu generasi pemikir yang masih percaya bahwa kebangkitan umat harus dimulai dari ilmu yang tertib, makna yang tepat, dan manusia yang beradab,” pungkasnya.
Sumber : Muhammadiyah.or.id







