Refleksi surat Al-Baqarah vs Yahudi_
Oleh : Junaedy Alfan (Peneliti IT untuk Pendidikan dan Peradaban)
Pagi itu di Depok, udara terasa sejuk nan tenang. Di hari kelima safari silaturahmi kami di Jawa Barat, Allah mempertemukan langkah kami dengan seorang guru pemikiran, Dr. Adian Husaini. Beliau baru saja mendarat dari perjalanan dakwah yang melelahkan melintasi Gorontalo, Padang, hingga Bengkulu. Namun, lelah itu seolah luruh saat beliau menyambut kami dengan senyuman dan keramahan yang tulus.
Di sebuah meja ruang Kafe kawasan Cimanggis, diskusi besar tentang peradaban tidak dimulai dengan seminar megah atau slide presentasi yang rumit. Diskusi itu dimulai dengan aroma kopi yang mengepul dan renyahnya singkong goreng di piring kecil di antara kami. Sebuah setting yang sangat ndeso, sangat manusiawi, namun melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang menohok logika dan menyentuh kalbu.
Dr. Adian membuka percakapan dengan sebuah analogi yang mungkin jarang kita dengar dalam khutbah Jumat biasa, namun sangat dalam maknanya.
“Coba antum teliti, apa hubungannya sifat kaum Yahudi dengan ‘Sapi Betina’?” tanya beliau tiba-tiba, sambil menyeruput kopinya.
Saya terdiam sejenak. Manggut-manggut, bukan karena sudah paham, tapi karena rasa penasaran yang tiba-tiba menyala. Dalam benak saya, Surat Al-Baqarah adalah surat tentang kisah Bani Israil yang diperintah menyembelih sapi betina. Apa kaitannya dengan karakteristik mereka hari ini?
Beliau kemudian melemparkan sebuah paradoks yang membuat saya tertegun.
“Kita sangat masif, sangat lantang, bahkan sangat emosional ketika memboikot produk-produk fisik buatan Yahudi di supermarket. Kita teliti mengecek label, kita serukan gerakan anti-minuman soda tertentu, anti-fast food tertentu. Itu bagus, itu bentuk kepedulian,” ujarnya pelan namun tegas. “Tapi, anehnya, kita hampir tidak pernah mendengar seruan untuk memboikot ‘kurikulum’ dalam sistem pendidikan kita.”
Kalimat itu menghantam dada. Logika saya bekerja cepat, mencoba membongkar lapisan demi lapisan pernyataan tersebut.
*Benarkah kita hanya berhenti pada kulit?*
Dr. Adian melanjutkan, “Setiap hari, minimal 17 kali dalam shalat, kita membaca Surat Al-Fatihah. Kita berdoa, ‘Ihdinash-shirathal mustaqim… wa la dhallin’ (Tunjukilah kami jalan yang lurus… dan janganlah jalan orang-orang yang sesat). Secara teologis, ‘orang yang sesat’ dalam konteks ayat ini merujuk pada penyimpangan pemahaman Yahudi dan Nasrani yang keluar dari tauhid murni.”
“Pertanyaannya,” sambung beliau, menatap mata saya lekat-lekat, “Jika kita berdoa 17 kali sehari agar terhindar dari pemikiran mereka, mengapa kita justru mengadopsi sistem pendidikan yang akar filosofisnya berasal dari paradigma sekuler-materialis yang mereka kembangkan? Mengapa kita tidak boikot ‘cara berpikir’ mereka?”
Poin ini membuka kotak pandora dalam pikiran saya. Selama ini, kita menganggap “produk” sebagai barang jadi: baju, makanan, gadget. Kita lupa bahwa pemikiran adalah produk juga. Bahkan, pemikiran adalah induk dari semua produk fisik.
Sebuah gedung pencakar langit adalah produk dari cara berpikir arsitektur modern. Sebuah undang-undang ekonomi adalah produk dari cara berpikir kapitalis liberal. Sikap individualis, hedonis, atau materialistik yang menjamur di masyarakat adalah produk dari sistem pendidikan yang memisahkan ilmu dari adab, memisahkan akal dari wahyu.
Kita mengalami amnesia intelektual. Kita sibuk memerangi gejala (produk konsumtif), tapi abai terhadap penyakitnya (paradigma pendidikan).
“Ini adalah Pekerjaan dan perjuangan terbesar umat Islam saat ini,” kata Dr. Adian menutup diskusi pagi itu. “Kita perlu membangun kembali fondasi. Sistem pendidikan yang digagas oleh Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, yang menekankan pada ‘Adab’ dan ‘Islamisasi Ilmu Pengetahuan’, bukan sekadar wacana akademis. Ia adalah kebutuhan darurat untuk menyelamatkan generasi dari kebingungan identitas.”
Saat saya berpisah Dr. Adian dipagi menjelang siang itu, rasa kenyang setelah makan singkong goreng berubah menjadi rasa “lapar” baru. Lapar akan pemahaman. Lapar akan kejelasan.
Sahabat pembaca, mari kita renungkan bersama:
1. Apakah kita sudah cukup kritis terhadap apa yang diajarkan kepada anak-anak kita di sekolah, selain sekadar nilai akademik
2. Sudahkah kita membedakan antara “ilmu” yang bebas nilai dengan “pengetahuan” yang harus bermuara pada adab dan ketuhanan?
3. Mampukah kita berani melakukan “boikot mental”? Yaitu, menolak menelan mentah-mentah paradigma dunia yang bertentangan dengan fitrah kita, meski paradigma itu dikemas rapi dalam buku teks dan gelar kesarjanaan?
Peradaban tidak dibangun dengan sekadar mengganti merek kopi atau pakaian. Peradaban dibangun ketika kita berani mengganti kacamata pandang kita terhadap dunia. Dari Depok, pagi ini, saya belajar bahwa jihad terbesar bukan hanya di medan perang atau di lorong-lorong pasar, melainkan di dalam ruang kelas dan di dalam kepala kita sendiri.
Wallahu a’lam bish-shawab.
April 26 2026







