Episode 2 : Muhammad Agung Bramantya
“mentadabburi langit, menyalakan akal, menumbuhkan iman”
Pada suatu pagi selepas subuh, halaman sekolah masih basah oleh embun. Lampu-lampu lorong baru saja dipadamkan, sisa cahaya kuningnya menempel di dedaunan yang bergoyang pelan. Di langit timur, warna biru muda menggeser sisa gelap malam. Seorang siswa sudah berdiri di tepi lapangan sekolahnya, menatap awan-awan tipis yang seperti serat kapas disisir angin. Ia tak membawa buku tebal, hanya catatan kecil, sebuah termometer saku, dan rasa ingin tahu yang menggebu. Guru fisikanya perlahan menghampiri. Mereka menatap langit yang sama, dan keduanya tahu bahwa pelajaran hari itu sudah dimulai bahkan sebelum bel masuk sekolah berbunyi.
Bagi seorang muslim, langit bukan sekadar atap dunia. Ia adalah lembaran ilmu terbuka, sebuah hamparan pengetahuan (ayat kauniyah) yang bisa dibaca dengan mata, diukur dengan alat, lalu direnungkan dengan hati. Al‑Qur’an menyebut tanda-tanda di alam sebagai āyāt (alamat menuju makna) dan berkali-kali mengundang manusia untuk memperhatikan susunan langit dan bumi, pergiliran malam dan siang, angin yang berhembus dari berbagai arah, awan yang diarak, serta hujan yang menurunkan kehidupan. Dalam QS 2:164 misalnya, semua itu disebut berderet, mulai dari kapal-kapal yang berlayar hingga perubahan angin, seolah Allah Subhanahu wa Ta’ala menata daftar “objek penelitian” yang siap kita dekati dengan akal dan adab. Ayat itu bukan sekadar menaruh puisi hampa di langit, tetapi mendorong lahirnya pertanyaan: bagaimana semua ini bekerja, dan untuk apa pengetahuan itu bisa dipakai?
Di ayat lain QS 35:28, Al‑Qur’an memperkenalkan wajah lain dari ilmu pengetahuan: siapa yang benar-benar mengetahui, dialah yang paling khashyah (paling sadar, paling takzim, paling takut) karena mengenal keluasan dan ketelitian ciptaanNya. Pengetahuan, dalam kacamata ayat ini, bukan sekedar koleksi istilah atau gelar semata. Ia adalah cahaya kesadaran yang membuat langkah lebih hati-hati, keputusan lebih adil, dan ibadah lebih hidup. Ketika seorang siswa memahami bagaimana butir awan lahir dari uap yang mendingin, lalu merunduk melihat betapa kecilnya kita dalam sistem yang begitu rapi, sebenarnya ia sedang menjalani nilai keagamaan, yaitu memakmurkan akal untuk sampai pada syukur dan amanah Ilahi.
Sabda Nabi ﷺ yang masyhur, thalabul ‘ilm farīdhatun ‘ala kulli muslim (menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim)[1] sangat perlu untuk kita cermati. Ilmu yang dicari dengan niat yang benar dan adab yang baik akan menjadi ibadah. Ilmu yang dipakai untuk kemaslahatan bersama akan menjadi sedekah yang mengalir. Dalam pelajaran sains, kalimat itu berarti kejujuran pada data, kesabaran menghadapi ketidakpastian, dan keberanian mengakui keterbatasan. Bagi seorang pelajar, mencatat suhu apa adanya lebih mulia daripada mengubah angka demi grafik yang terlihat rapi. Bagi seorang guru, mengatakan “saya belum tahu” adalah teladan rendah hati yang jarang ditawarkan di era Artificial Intelligence (AI) saat ini. Namun hal itu justru itu pintu pembuka bagi penyelidikan yang berikutnya.
Pelajaran kita beranjak kepada langit yang berawan. Secara ilmiah, awan lahir dari kisah sederhana yang sangat memikat. Air menguap dari laut, sungai, dan dedaunan, lalu diangkat oleh panas matahari ke lapisan udara yang lebih tinggi dan lebih dingin pada lapisan langit bumi, lalu mengembun ketika mencapai kejenuhan (titik jenuh). Tetapi uap itu tidak serta-merta berubah menjadi tetes air di ruang hampa. Ia memerlukan tempat untuk menempel, yaitu partikel mikroskopik yang melayang di udara, yaitu dari garam laut yang terangkat ombak hingga butiran debu halus. Partikel-partikel ini disebut inti kondensasi awan (cloud condensation nuclei/CCN). Di sekeliling CCN, molekul-molekul uap berkumpul, membentuk tetes mungil. Jutaan tetes tersusun menjadi awan yang kita lihat sehari-hari. Penjelasan mendasar tentang proses ini (dengan bahasa yang ramah bagi pelajar) telah dirangkum oleh NOAA JetStream[2], program edukasi meteorologi yang menjadi rujukan sekolah di berbagai negara. Memahami hal itu membuat seorang siswa memandang awan bukan lagi sebagai hiasan langit, melainkan sebagai laboratorium mikroskopik yang mengambang di langit semesta.
Namun awan tidak semuanya sama. Ada yang tinggi dan tipis seperti guratan bulu (cirrus); ada yang rata seperti selimut (stratus); ada pula yang bergumpal tebal dan menjulang (cumulus) yang bisa berkembang menjadi cumulonimbus, tempat terjadinya kilat dan hujan deras. WMO (World Meteorological Organization)[3] menata bahasa universal untuk menyebut dan mengenali awan-awan tersebut. Klasifikasi mereka memudahkan pelajar dari belahan bumi manapun untuk berbicara tentang langit dengan bahasa yang sama sama. Saat kita mengatakan “cirrus”, seorang pelajar di kota lain akan membayangkan tekstur awam dan ketinggian yang kurang lebih sama. Dengan nama yang tepat, pengamatan lebih terarah; dan dengan pengamatan yang terarah, pertanyaan sains menjadi lebih tajam untuk menggali jawaban lebih dalam dan akurat menjadi ilmu pemahaman.
Di balik rupa awan yang biasa kita lihat sehari-hari, ada dunia mikrofisika yang rumit sekaligus indah[4]. Para peneliti meteorologi menemukan bahwa konsentrasi CCN dapat memengaruhi bagaimana tetes-tetes awan tumbuh dan akhirnya jatuh sebagai hujan. Terlalu banyak CCN bisa menghasilkan banyak tetes kecil yang butuh waktu lama untuk saling bertabrakan dan menyatu; terlalu sedikit CCN bisa membuat awan kurang “terjahit”, sehingga sukar membentuk presipitasi yang cukup untuk menjadi hujan. Penelitian-penelitian mutakhir di jurnal meteorologi (misalnya pada penerbitan American Meteorological Society)[5] memperlihatkan betapa sensitifnya proses “inisiasi hujan” terhadap perubahan kecil pada partikel yang nyaris tak terlihat itu. Gambaran ini mengembalikan kita pada rasa takjub, bahwa rahasia hujan bisa tersembunyi pada sesuatu yang begitu halus (sebutir garam, secuil aerosol) namun dampaknya meluas hingga menjangkau sawah, waduk, bahkan rupa musim yang kita rasakan saban tahun, termasuk musim penghujan di negara kita ini.
Al‑Qur’an, ketika menyebut angin yang beredar dan berubah, seakan memperlihatkan kerangka besar dari gambaran tersebut. QS 45:5 berbicara tentang taṣrīf ar‑riyāḥ (variabilitas, pergantian, peralihan angin) sebagai tanda bagi orang yang berpikir. Dalam keterangan para ulama mufassir, angin berhembus dari berbagai arah dan waktu, membawa kabar gembira turunnya hujan, menyegarkan udara, dan memainkan peran yang berbeda-beda. Sains atmosfer melengkapi makna itu: angin mengangkut uap dan aerosol, menata stabilitas atmosfer, dan memicu konveksi yang membuat awan tumbuh atau tercerai-berai. Sementara itu, QS 15:22 menyebut angin lawaqiḥ yaitu angin yang “memupuk”, yang sebagian ulama mufassir pahami sebagai angin penyerbuk bagi tumbuhan dan ulama yang lainnya maknai pula sebagai angin yang “menyuburkan” awan dengan membawa partikel yang membantu kondensasi. Tak ada pertentangan dalam berbagai tafsir tersebut; justru ada keselarasan makna: angin menolong panen lewat jalur botani, dan angin juga menolong hujan lewat jalur atmosferik. Ketika kita belajar tentang CCN, kita seakan melihat sebagian kecil dari cara “pemupukan” itu bekerja di tingkat molekuler.
Seorang siswa yang memperhatikan langit akan segera menemukan pola harian yang menarik. Di banyak daerah pesisir, misalnya, angin pagi cenderung bertiup dari darat ke laut; sementara siang hingga sore, arah berbalik: angin laut membawa kelembapan ke daratan yang memanas lebih cepat. Rangkaian sederhana ini saja dapat melahirkan sebuah hipotesis pembelajaran: “Mengapa awan bergumpal sering muncul menjelang sore di wilayah kami? Apakah pergantian angin harian ikut bertanggung jawab terhadap pembentukan awan tersebut?” Dengan bekal klasifikasi awan dari WMO Cloud Atlas, termometer saku, dan penanda arah angin sederhana, para siswa dapat mengamati langit pada tiga waktu tetap (pagi, tengah hari, dan sore) selama tujuh hari berturut turut. Mereka catat rupa bentuk/jenis awan, kira-kira ketinggian dan ketebalannya, arah angin, serta apakah hujan turun atau tidak di hari itu. Di akhir pekan, mereka menggambar grafik kecil: hubungan jam pengamatan, jenis awan, dan kejadian hujan. Tiba-tiba, dugaan yang selama ini hanya sebatas “dugaan/prasangka” berubah menjadi pola data yang dapat diamati secara empiris. Mekanisme ini (dari rasa ingin tahu menjadi data ilmiah) adalah inti dari pendidikan sains yang beradab: jujur mencatat, rendah hati membaca, berani memperbaiki, lalu menganalisis sehingga mendapatkan kesimpulan ilmu.
Tetapi tugas sekolah tidak berhenti pada menamai awan dan menggambar grafik. Ia meluas menuju kepada cara kita memelihara bumi dan menata hidup. QS 28:77 mengingatkan agar mencari kebaikan negeri akhirat tanpa melupakan bagian kita di dunia, berbuat baik sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berbuat baik, dan tidak membuat kerusakan di bumi. Ayat ini terasa sangat dekat ketika kelas berdiskusi tentang air hujan. Kita dapat menampungnya, menyiram kebun sekolah, dan menyusun jadwal penyiraman berdasarkan kelembaban tanah yang diukur sederhana. Anak-anak belajar bahwa air adalah amanah. Mereka juga belajar bahwa ilmu bukan sekadar hafalan definisi, melainkan keputusan sehari-hari: kran yang ditutup rapat (hemat air), selokan yang dibersihkan (agar aliran air tidak mampat memicu banjir), tanaman yang dipilih karena akarnya mampu menahan limpasan air untuk mencegah banjir. Dalam suasana seperti ini, pelajaran sains dapat merapat kepada pelajaran agama; keduanya saling menguatkan, bukan saling meniadakan.
Sains, tentu saja, menuntut ketelitian. Ketika kita berbicara tentang awan, kita pun berbicara tentang cahaya dan panas. NOAA menjelaskan bagaimana awan (tergantung jenis dan ketebalannya) dapat memantulkan sebagian radiasi matahari ke angkasa atau justru menyerap dan memerangkap panas dari matahari tersebut. Kelas dapat membuktikan ini dengan cara yang sangat sederhana: mengukur suhu ruang pada siang hari dengan langit cerah berawan tipis dibandingkan saat langit mendung berawan tebal, lalu mencatat perbedaannya. Dari situ, percakapan tentang energi surya mengalir alami: mengapa panel surya bekerja lebih baik pada kondisi tertentu, mengapa awan tipis masih mengizinkan sebagian cahaya lewat, dan mengapa mendung tebal membuat hari terasa “berat” (panas, gerah, dll). Penjelasan populer yang disusun untuk pendidikan di laman NOAA[6] memberi landasan yang cukup bagi guru untuk menerangkan ini secara mudah.
Apa yang dihasilkan dari semua ini bukan hanya ilmu pengetahuan tentang langit, melainkan sikap manusia terhadap kehidupan yang berkesinambungan. Seorang anak yang setiap sore menengadah mentadabburi langit akan tumbuh dengan kebiasaan menghargai keteraturan kecil: jam pengamatan yang konsisten, catatan yang rapi, ketekunan untuk melanjutkan pengamatan walau hujan datang tiba‑tiba. Ketika ia dewasa dan bekerja di bidang lain (entah pertanian, kesehatan, atau layanan publik) kebiasaan itu akan memancar sebagai adab bekerja: tidak tergesa-gesa menyimpulkan, tidak abai terhadap data minor, tidak menekan fakta agar cocok dengan harapan. Itulah sumbangan paling berharga dari pendidikan sains yang bertemu nilai-nilai Islam: membentuk manusia yang mengerti bagaimana sesuatu bekerja dan untuk apa pengetahuan itu dipakai.
Dalam perjalanan ini, guru dan orang tua memegang peran yang lembut namun menentukan. Orang tua dapat menjadi “peneliti tamu” yang membawa pengetahuan lokal: bagaimana nelayan membaca arah angin, bagaimana petani menebak hujan dari bau tanah, bagaimana pedagang kaki lima memutuskan memasang terpal sebelum hujan. Ketika pengalaman-pengalaman lokal itu disandingkan dengan klasifikasi WMO dan penjelasan NOAA tentang pembentukan awan, pelajaran menjadi milik bersama: ilmu tekstual dari buku dan ilmu kontekstual dari kehidupan sehari-hari berjumpa di ruang keluarga. Kesenjangan antara teori dan praktik menyempit; anak-anak merasakan bahwa pengetahuan bukan hanya milik laboratorium, melainkan juga milik nelayan, pasar, ladang, mushola, bahkan keluarga.
Tentu, ada hal-hal yang perlu dijaga agar langkah tetap tegak lurus. Pertama, kita menjaga jarak proporsional antara teks suci Al Qur’an dan mekanisme ilmiah sains. Al‑Qur’an mengarahkan pandangan dan memberi nilai (value), sementara sains menjelaskan tata kerja (metodologi). Ketika QS 15:22 menyebut angin lawaqiḥ, kita menyampaikan kepada siswa bahwa para mufassir menawarkan beberapa penjelasan yang sama-sama patut dihargai, yaitu angin sebagai penyerbuk tumbuhan, atau angin sebagai “pemupuk” awan. Kita lalu menunjukkan bagaimana sains atmosfer modern menguatkan masuk akalnya gagasan tentang “pemupukan” awan melalui CCN, sambil mengingatkan bahwa ayat Al Qur’an tidak dimaksudkan sebagai buku praktikum sains semata, tetapi Al Qur’an adalah sumber isnpirasi dari Rabb Semesta Alam.
Kedua, kita mengajarkan ketidakpastian sebagai bagian dari kejujuran sunnatullah, bahwa Allah Ta’ala sematalah Yang Maha Mengatur dan Maha Kuasa. Prediksi cuaca adalah perkiraan terbaik berdasarkan data dan model; ia bisa meleset. Disinilah esensi takdir Allah Yang Maha Sempurna. Mengakui ruang salah itu adalah adab ilmiah; memperbarui model setelah belajar dari kesalahan adalah semangat islah dalam riset.
Ketiga, kita memastikan bahwa teknologi (betapapun canggihnya) tetap berada di bawah kendali manusia. Sensor suhu dan kelembapan murah dapat dipasang, tetapi siswa dan guru tetap memverifikasi, mengukur ulang, dan menandai data yang tak wajar. Inilah human‑in‑the‑loop (HITL) dalam bentuk paling sederhana. Manusia sebagai pengarah, pemeriksa, dan penentu, bukan sekadar pengguna pasif angka-angka. Karena kebijaksanaan dan hikmah hanya dimiliki oleh manusia, bukan alat.
Sepekan “membaca langit” dapat diakhiri dengan perayaan kecil-kecilan. Siswa memajang hasil infografik Sains & Ayat di mading kelas, hasil karya mereka sendiri. Foto awan-awan yang mereka tangkap, garis sederhana hubungan jam pengamatan dengan kejadian hujan, dan potongan ayat yang paling menyentuh hati mereka, semisal QS 2:164 atau QS 45:5. Mungkin ada yang menulis, “Hari Rabu kami menatap cumulus yang tumbuh jadi menara, lalu sore itu benar-benar hujan.” Ada yang berkata, “Kami belajar bahwa saat langit tampak seperti serabut tinggi, hari terasa tetap panas: ternyata itu cirrus, dan ia berbeda efeknya pada cahaya.” Ada pula yang menulis kalimat pendek yang tak kalah berharga: “Aku bersyukur hari ini belajar melihat langit.” Bagi guru, pameran kecil seperti ini adalah cermin keberhasilan. Ilmu yang membumi, ayat yang hidup dalam nurani, dan anak-anak yang tumbuh akal sekaligus hatinya.
Di balik narasi kelas dan kebun, ada pula gunung literatur yang dapat dijelajahi untuk memperdalam pemahaman. NOAA JetStream menyediakan penjelasan populer tentang pembentukan awan dan siklus hidrologi yang sangat cocok untuk siswa menengah; WMO dengan International Cloud Atlas memberi bahasa bersama untuk menamai awan; dan publikasi meteorologi bereputasi internasional (misalnya di jurnal American Meteorological Society, dll) mengupas tuntas kaitan CCN dengan dinamika presipitasi. Menautkan kelas dengan literatur ilmiah bertanggung jawab bukan demi kemewahan akademik, melainkan agar anak-anak tumbuh dengan sense ilmiah yang benar: tahu sumber referensi yang baik, paham batas, dan senang menyelami kedalaman tanpa kehilangan pijakan referensi[7].
Barangkali ada yang bertanya, untuk apa semua ini bagi masyarakat? Jawabannya sederhana: karena masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang bisa membaca tanda-tanda alam, mengambil keputusan berbasis pengetahuan, dan menjaga bumi dengan kasih. Bila sebuah sekolah terbiasa mengamati langit, ia cenderung lebih siap menghadapi musim hujan. Informasi internal lebih tertata, alat sederhana siap, budaya saling mengingatkan terbangun. Bila sebuah kampung terbiasa menakar curah hujan dan mengukur tinggi air, ia cenderung lebih sigap saat sungai naik level airnya. Jalur evakuasi teruji, perhatian pada kelompok rentan meningkat, dan hoaks bencana kalah oleh informasi yang jernih. Semua itu adalah buah dari pendidikan sains yang bertemu nilai kemuliaan (value): tadabbur melahirkan action, action melahirkan kebiasaan, kebiasaan melahirkan pengetahuan kecil yang menghangatkan peradaban.
Menjelang penutup, marilah kita kembali ke tiga ayat yang menjadi pilar artikel ini. QS 2:164 mengajarkan kebiasaan memandang (tadabbur) mengumpulkan tanda dari laut, langit, angin, dan awan serta seluruh alam raya. QS 45:5 menegaskan ritme besar alam: pergantian siang dan malam, hujan yang menghidupkan, angin yang beredar, semuanya isyarat untuk berpikir. QS 35:28 menempatkan pengetahuan sebagai jalan menuju khashyah, rasa takut penuh takzim yang memuliakan Sang Pencipta. Di antara ketiganya, lahir pelajar yang tidak sombong pada ilmu dan tidak malas pada amal: ia membaca, mengukur, menimbang, lalu berbuat baik sesuai kapasitasnya.
Pada petang hari yang lain, selepas hujan reda, halaman sekolah kembali mengkilap. Di atas rumput, ada jejak-jejak kecil tempat air menggenang, membentuk cermin-cermin bundar yang memantulkan lukisan langit. Seorang anak duduk bersila, menulis di jurnal: “Hari ini aku mengerti mengapa awan bisa lahir dari uap yang tak terlihat. Aku juga mengerti bahwa tak semua awan jadi hujan. Tapi yang lebih penting, aku mengerti kenapa ilmu itu penting: ia menolongku merawat kebun kecil di belakang kelas dan membuatku ingat bahwa semua ini bukan kebetulan semata, tetapi karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Guru membacanya, lalu tersenyum. Besok dan lusa mereka akan menatap langit lagi, mungkin dengan pertanyaan baru; mungkin dengan alat baru; tapi yang pasti, dengan hati yang sedikit lebih halus daripada kemarin, iman yang menguat.
Di sanalah, sains dan Al‑Qur’an bertemu: dalam kebiasaan yang tenang untuk melihat lebih dalam, dalam kerelaan untuk belajar dari kesalahan, dan dalam komitmen untuk menjadikan pengetahuan sebagai rahmat bagi sekitar. Meneliti alam, pada akhirnya, adalah bentuk lain dari sujud: sujud akal yang mengakui keteraturan ciptaan Rabbul ‘Alamin, sujud hati yang menghayati makna, dan sujud laku yang memilih jalan maslahat. Semoga setiap butir hujan yang jatuh menjadi pengingat lembut bahwa ilmu terbaik adalah ilmu yang menumbuhkan syukur, dan syukur terbaik adalah syukur yang melahirkan kebaikan, selalu menautkan hati dan kesadaran akan Kemaha Esaan Sang Pencipta Alam Semesta.
Rujukan untuk pendalaman lebih lanjut bagi pembaca: Tafsir dan terjemahan QS 2:164, QS 45:5, dan QS 35:28 dapat ditelaah melalui himpunan tafsir dan portal Al‑Qur’an terpercaya; penjelasan populer mengenai pembentukan awan serta siklus hidrologi tersedia di NOAA JetStream; klasifikasi standar awan dirangkum oleh WMO – International Cloud Atlas; dan relasi CCN–presipitasi dapat disimak pada publikasi jurnal bereputasi, misalnya di jurnal American Meteorological Society, dll. Dengan menjadikan sumber-sumber itu sebagai sahabat, kelas-kelas kita akan punya bahasa ilmiah yang sama untuk membaca langit dan keberanian yang sama untuk merawat bumi.
Semoga artikel ini menjadi bekal bagi siswa yang sedang tumbuh rasa penasarannya, bagi guru yang hendak menyalakan api pembelajaran di kelasnya yang sederhana, bagi orang tua yang mendampingi sang buah hati dari teras rumahnya, dan bagi semua yang percaya bahwa ilmu (bila dituntun iman) akan senantiasa menjadi jalan pulang menuju kebaikan. Pulang kepada Tauhidullah. Wallahu a’lam.
Referensi :
[1] Rujukan hadis dapat ditelaah pada kompilasi Sunan Ibn Mājah dan sumber-sumber terpercaya yang mengulas tradisi keilmuan dalam Islam
[2] NOAA JetStream – How Clouds Form: penjelasan populer tentang pembentukan awan, kondensasi, dan peran inti inti kondensasi (CCN), ramah untuk siswa. https://www.noaa.gov/jetstream/clouds/how-clouds-form
[3] WMO – International Cloud Atlas / Classifying Clouds: pengenal 10 jenis awan beserta ketinggian dan ciri visualnya, berguna untuk observasi harian. https://wmo.int/world-meteorological-day-2017/classifying-clouds
[4] Cambridge Core: Cloud and Precipitation Microphysics (ikhtisar bab mikrofisika). https://www.cambridge.org/core/books/cloud-and-precipitation-microphysics/C17826FDB91280DF66B103F8ED99F5F7
[5] Jurnal meteorologi/AMS tentang hubungan CCN dan inisiasi hujan untuk pengayaan guru atau klub sains sekolah. https://journals.ametsoc.org/view/journals/atsc/80/1/JAS-D-22-0017.1.xml
[6] NOAA SciJinks: pengenalan jenis awan untuk K-12. https://www.nesdis.noaa.gov/about/k-12-education/scijinks
[7] Sebenarnya ada banyak litertur referensi khas dari dunia Islam, namun belum terpublikasikan dengan baik saat ini, dan masih perlu penggalian lebih dalam lagi dari para Ilmuwan Muslim sebagai medan juang mereka.
Sekilas biografi penulis : https://wahdahedumagz.com/muhammad-agung-bramantya-akademisi-penulis-dan-penggerak-pendidikan-islam/







