- Oleh : Sopian Baguer
Dalam setiap organisasi atau entitas, baik lembaga pendidikan, yayasan, maupun komunitas, dinamika sumber daya manusia selalu menjadi faktor penentu keberhasilan.
Sopian Bageur, seorang marcomm expert, mengungkapkan bahwa secara umum terdapat tiga karakter utama yang kerap muncul dalam tubuh organisasi. Memahami ketiganya menjadi langkah awal untuk membangun lingkungan kerja yang sehat, produktif, dan saling menguatkan.
1. Kelompok Rival: Banyak Kritik, Minim Solusi
Karakter pertama adalah mereka yang memposisikan diri sebagai rival. Indikatornya terlihat dari ketidakpuasan yang terus-menerus terhadap kebijakan pimpinan, aturan lembaga, maupun program kerja. Kritik memang penting, namun kelompok ini sering kali mengkritik tanpa disertai solusi yang membangun.
Sopian menjelaskan, karakter rival cenderung tidak berdiri sendiri. Mereka biasanya membentuk “koloni” dengan mencari dukungan dari orang lain yang memiliki keresahan serupa. Sikap emosional juga sering muncul, seperti mudah tersinggung, enggan hadir dalam rapat, tidak mau berdiskusi, dan menarik diri ketika pendapatnya tidak diakomodasi. Jika dibiarkan, pola ini dapat menghambat harmoni dan kemajuan organisasi.
2. Kelompok Mitra: Kritik yang Membangun dan Solutif
Kelompok kedua adalah mereka yang memposisikan diri sebagai mitra atau partner. Berbeda dengan rival, kelompok ini tetap kritis, namun disertai dengan solusi. Ketika kebijakan tidak sesuai dengan kondisi di lapangan, mereka tidak hanya mengeluh, tetapi menawarkan masukan yang konstruktif, bahkan bersedia terlibat langsung dalam penyelesaian masalah.
Menurut Sopian, inilah karakter ideal yang perlu diperbanyak dalam organisasi. Mereka bukan hanya peduli, tetapi juga siap berkontribusi nyata demi kemajuan bersama. Budaya mitra inilah yang melahirkan kolaborasi, kepercayaan, dan semangat kolektif dalam mencapai tujuan lembaga.
3. Kelompok I Don’t Care: Diam karena Tidak Terjangkau Informasi
Karakter ketiga adalah kelompok I don’t care, yakni mereka yang terlihat tidak peduli terhadap program, kebijakan, atau perubahan apa pun dalam organisasi. Namun, Sopian menilai kelompok ini bukan yang paling berbahaya. Justru, mereka sering kali bersikap demikian karena adanya miskomunikasi, kurangnya informasi, atau tidak merasa dilibatkan.
Kelompok ini, menurutnya, adalah yang paling mudah disentuh. Dengan pendekatan personal, komunikasi yang hangat, serta proses merangkul yang tepat, zona I don’t care dapat diubah menjadi I care. Ketika mereka mulai merasa dihargai dan dilibatkan, kepedulian pun tumbuh secara alami.
Dari ketiga karakter tersebut, Sopian menekankan pentingnya membangun sense of belonging atau rasa memiliki dalam organisasi. Rasa memiliki tidak lahir dari aturan semata, tetapi dari hubungan yang saling percaya, komunikasi yang terbuka, serta budaya saling mendukung.
Organisasi yang sehat bukanlah organisasi tanpa kritik, melainkan organisasi yang mampu mengelola kritik menjadi energi perbaikan. Dengan memperkuat karakter mitra dan merangkul kelompok I don’t care, serta mengelola kelompok rival secara bijak, sebuah lembaga dapat bergerak menuju satu tujuan: tumbuh bersama dalam harmoni dan keberkahan.
Artikel diatas penulis sampaikan dihadapan para guru dan pengurus yayasan As shobabul Muslimin,Soppeng dalam kegiatan FGD di masjid Baiturrohim Soppeng, Senin (2/2/2026)







