Oleh : Anwar Aras
LAMPUNG SELATAN WAHDAHEDUMAGZ.COM – Perjalanan dakwah tidak selalu berjalan mulus. Hal itu dirasakan langsung oleh Ustadz Nasruddin, S.H., alumni STIBA Makassar (kini IAI STIBA), angkatan 2018, asal Gowa, Sulawesi Selatan.
Sejak diutus ke Lampung pada Agustus 2018, sebagai tugas akhir mahasiswa STIBA sebelum di wisuda, ia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penolakan warga hingga tudingan negatif. Namun, dengan pendekatan persuasif dan silaturahim, dakwah perlahan diterima masyarakat.
Saat ini, Ustadz Nasruddin mengemban amanah sebagai Ketua Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI) DPW Lampung serta aktif di Departemen Kaderisasi.

Awal Penugasan dan Tantangan Pembangunan
Setibanya di Lampung pada 2018, Nasruddin sempat tinggal di sekretariat lama di Kota Bandar Lampung selama lebih dari setahun. Pada 2019, ia bersama tim berpindah ke Lampung Selatan, lokasi tanah hibah yang direncanakan untuk pembangunan masjid.
Namun, pembangunan tersebut tidak berjalan mulus. Minimnya sosialisasi kepada tokoh agama dan masyarakat memicu kesalahpahaman. Di sisi lain, dana pembangunan yang bersifat terbatas waktu menuntut agar proyek segera dimulai.
“Peletakan batu pertama sudah dilakukan, tetapi muncul penolakan dari sebagian warga karena merasa tidak dilibatkan,” ujar dai yang telah memiliki dua anak.
Ketegangan memuncak ketika puluhan warga sempat mendatangi lokasi dan berniat menghentikan pembangunan. Proyek pun vakum selama kurang lebih dua bulan. Para pekerja yang didatangkan dari Cianjur, Jawa Barat, kembali ke daerah asal karena situasi tidak kondusif. Bahkan, saat itu ketua DPW Wahdah Lampung memilih mundur dari jabatannya.

Strategi Pendekatan dan Komunikasi
Pergantian kepemimpinan menjadi titik balik. Ketua DPW yang baru, Zainal juga alumni STIBA mengajak Nasruddin melakukan pendekatan langsung ke masyarakat. Mereka mendatangi ketua RT, kepala dusun, hingga kepala desa dan rumah warga, untuk jelaskan kembali maksud pembangunan masjid tersebut.
“Alhamdulillah hasil negosiasi dengan tokoh masyarakat dihasilkan surat pernyataan resmi, disepakati bahwa bangunan tersebut untuk sementara difungsikan sebagai aula, bukan masjid. Kesepakatan itu meredakan ketegangan dan pembangunan kembali dilanjutkan,” kata dai yang istrinya sebagai ketua Muslimah Wahdah Wilayah (MWW) Lampung.
Pada 2020, bangunan akhirnya rampung dan diresmikan oleh donatur. Nasruddin kemudian diamanahkan untuk menetap dan membina masyarakat sekitar.
Dituding Teroris, Dijawab dengan Pembinaan
Meski bangunan telah berdiri, penerimaan masyarakat belum sepenuhnya pulih. Selama dua bulan pertama, Nasruddin fokus melakukan silaturahim dari rumah ke rumah untuk meredam kesalahpahaman.
Ia mengaku sempat mendapat tudingan sebagai kelompok “teroris” hanya karena penampilan istri bercadar dan dai celana cingkrang yang sering disalahpahami sebagian orang.
“Kami ingin menunjukkan bahwa ini pandangan yang keliru. Dakwah yang kami bawa adalah pendidikan dan pembinaan,” jelasnya, saat menceritakan kepada tim media yang berkunjungan ke Lampung.
Pendekatan persuasif itu membuahkan hasil. Perlahan, warga mulai terbuka. Bahkan, sebagian dari mereka yang sebelumnya menolak kini justru mempercayakan anak-anaknya untuk belajar di Rumah Qur’an yang dibina Nasruddin.
Sejak 2020 hingga kini, anak-anak warga setempat rutin mengikuti pembelajaran Al-Qur’an. “Alhamdulillah, bahkan ada orangtua salah seorang santri kita, siap membela dan pasang badan bila ada yang mengganggu dakwah dan pendidikan di Rumah Qur’an tersebut, ” dengan terharu menceritakan kisahnya.

Harapan Penguatan SDM Dai
Sebagai Ketua YPWI DPW Lampung dan pengurus kaderisasi, Nasruddin berharap ada penambahan dai untuk memperkuat pembinaan di Lampung Selatan. Saat ini, sejumlah amanah masih dirangkap karena keterbatasan sumber daya manusia.
“Mudah-mudahan tahun ini ada pengiriman dai dari STIBA atau lembaga terkait, sehingga dakwah di Lampung Selatan semakin berkembang,” harapnya.
Komitmen Dakwah Berkelanjutan
Perjalanan Ustadz Nasruddin menunjukkan bahwa dakwah bukan hanya soal ceramah dan khutbah di mimbar, tetapi juga membangun komunikasi, menjalin kepercayaan, dan merawat hubungan sosial. Dari penolakan hingga penerimaan, proses itu ditempuh dengan kesabaran dan pendekatan persuasif.
Kini, di tanah yang sempat dipersoalkan untuk pembangunan masjid, kini berdiri pusat pembinaan anak dan remaja.

Menurut Nasruddin sebenarnya yang cukup strategis bangunan tersebut bisa dijadikan Pesantren Mahasiswa. Selain lokasi sangat dekat dengan kampus Institut Teknologi Sumatra (ITERA). juga bangunan disekitarnya telah berdiri asrama, kos-kosan dan kontrakan mahasiswa.
Saat ini bangunan tersebut digunakan sebagai Rumah Qur’an Al Wahdah, waktunya antara magrib dan isya, dengan membina 15 santri.
Dakwah yang dulu diragukan, perlahan berubah menjadi jembatan kebaikan bagi masyarakat sekitar.
Tulisan diatas saat berkunjung ke Lampung membersamai ketua LPYP WI, meninjau pendirian PAUD (pendidikan formal pertama di Lampung), Ahad (15/2/2026).







