Oleh : Anwar Aras
Bagi Ahmad Baso, S.P., M.Pd., pendidikan bukan sekadar profesi. Ia adalah jalan dakwah, ruang pengabdian, sekaligus ladang amal jariyah yang terus mengalir.
Baru baru ini ust Ahmad Baso bersama 88 Wisudawan dari Wahdah Islamiyah mengikuti Yudisium dan Wisuda pada Universitas Islam Annur Lampung, 11-14 Februari 2026.
Lahir dari keluarga sederhana yang sarat nilai keimanan, ia tumbuh dengan fondasi kuat yang ditanamkan oleh ayahnya, Ibrahim Lay, dan ibundanya, Siti Zainab Ahmad.
Kini, bersama istrinya, Fitriati Hasan Akuba, S.K.M., serta keempat putranya Uksyah Ahmad, Kamil Ahmad, Ubaidillah Ahmad, dan Hamzah Ahmad ia menapaki jalan perjuangan di dunia pendidikan Islam.
Mengabdi di Dunia Pendidikan Dasar
Kurang lebih sembilan tahun sudah Ustadz Ahmad Baso mengajar di SDIT Wihdahtul Ummah yang berlokasi di Jalan Abdullah Dg Sirua no 52 J, Kelurahan Masale Kec Panakukang Makassar. Sekolah Formal Wahdah Islamiyah pertama di Makassar.
“Di sini ada misi besar untuk membentuk karakter. Lingkungannya sangat dinamis. Antusias anak-anak dalam menghafal Al-Qur’an memberikan energi tersendiri yang tidak saya dapatkan di tempat lain,” tuturnya.
Menurutnya, suasana kekeluargaan yang berlandaskan iman menjadi kekuatan utama dalam proses pendidikan. Pendidikan tidak hanya membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk akhlak dan spiritualitas peserta didik.

Dukungan YPWI dan Visi Kelembagaan
Sebagai bagian dari lingkungan pendidikan yang berada di bawah naungan , ia melihat adanya sistem yang visioner dan terorganisir dengan baik.
“Profesionalisme yang dipadukan dengan nilai-nilai syar’i membuat kami sebagai pengajar memiliki sandaran yang kuat dalam berdakwah melalui jalur pendidikan,” jelasnya.
Dukungan yayasan terhadap pengembangan sumber daya manusia, menurutnya, sangat terasa. Para guru tidak dibiarkan berjalan di tempat, tetapi didorong untuk terus meningkatkan kapasitas diri.
Alasan Melanjutkan Studi ke Jenjang S2
Keputusan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister bukanlah keputusan yang instan. Ustadz Ahmad Baso menyadari bahwa dunia pendidikan terus berkembang dan semakin kompleks.
“Saya merasa gelar sarjana belum cukup untuk membedah kompleksitas pendidikan zaman sekarang. Saya ingin memiliki perspektif yang lebih luas, baik secara praktis maupun teoritis, agar kontribusi saya tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga pada kebijakan yang lebih strategis,” ungkapnya.
Ia memilih melanjutkan studi di karena reputasinya yang baik dan dinilai selaras dengan nilai-nilai perjuangan dakwah, tanpa meninggalkan marwah keislaman. Selain itu, lingkungan akademiknya mendukung bagi praktisi pendidikan yang ingin berkembang secara profesional.

Visi Setelah Meraih Gelar Magister
Gelar magister bukanlah tujuan akhir. Baginya, gelar hanyalah sarana untuk memperkuat kontribusi. Ia bertekad menerapkan manajemen pendidikan berbasis mutu.
Dengan ilmu manajemen yang diperoleh, ia berharap dapat:
1. Membantu sekolah dalam meningkatkan efisiensi tata kelola.
2. Mengembangkan kurikulum yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.
3. Mendorong peningkatan kompetensi dan profesionalisme para guru sebagai kader dakwah.
“Dakwah tidak selalu harus di mimbar. Profesionalisme yang jujur dan berprestasi memiliki pengaruh yang sangat kuat di tengah masyarakat,” tegasnya.
Ia meyakini bahwa pendidikan yang dikelola secara sistematis dan profesional akan menjadi instrumen dakwah yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Persembahan untuk Keluarga
Di balik capaian akademiknya, ada keluarga yang menjadi sistem pendukung terbaik. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini bukanlah hasil perjuangan pribadi semata.
Gelar magister tersebut ia persembahkan untuk kedua orang tuanya, istrinya tercinta, serta seluruh anggota keluarga yang senantiasa mendoakan dan mendukung setiap langkahnya.
“Mohon doa agar ilmu ini tidak membuat saya sombong, tetapi justru menjadikan saya semakin rendah hati dan bermanfaat bagi umat, bangsa, dan masyarakat.
Semoga dukungan keluarga menjadi pemberat timbangan amal kebaikan di sisi Allah. Amin ya Rabbal ‘alamin.”
Perjalanan Ustadz Ahmad Baso menunjukkan bahwa pendidikan dan dakwah bukan dua hal yang terpisah.
Ketika keduanya berjalan seiring ditopang oleh profesionalisme, manajemen yang baik, serta ketulusan niat—maka lahirlah generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak dan berdaya guna bagi umat.







