Oleh Muhammad Rudi (Ketua Yayasan Pendidikan Al almunir Gowa)
Belajar sepanjang hayat adalah ungkapan universal yang mengingatkan kita semua bahwa proses belajar tidak pernah berhenti. Belajar hadir di setiap waktu, setiap kesempatan, dan di setiap tempat. Ia tidak dibatasi oleh ruang kelas, papan tulis, ataupun seragam sekolah.
Saya ingin menyampaikan pesan kepada anak-anak kita baik yang berstatus sebagai siswa maupun santri bahwa belajar tidak hanya berlangsung di sekolah atau di pondok. Rumah, halaman, taman, pasar, perpustakaan umum, hingga toko buku, semuanya adalah ruang belajar yang sangat berharga. Bahkan dari aktivitas sederhana di tempat-tempat tersebut, anak dapat memperoleh pengalaman yang membentuk cara berpikir, berpikir, dan bertindak.
Tempat-tempat ini tidak hanya mengasah kemampuan kognitif dan motorik anak, tetapi juga mengaktifkan kemampuan kinestetik yang telah dianugerahkan Allah sejak lahir. Secara sederhana, kemampuan kinestetik adalah proses belajar melalui aktivitas fisik: berjalan, berlari, melompat, mengangkat, menggerakkan, serta berbagai bentuk gerak aktif lainnya.
Menghidupkan kemampuan kinestetik pada anak sangat bermanfaat, terutama untuk mengalihkan mereka dari aktivitas pasif dan berlebihan seperti menonton layar, bermain gim tanpa batas, atau tidur terlalu lama. Liburan seharusnya menjadi momentum menyehatkan fisik, pikiran, dan jiwa.
Beberapa contoh kegiatan sederhana yang dapat mengembangkan kemampuan kinestetik anak di masa liburan antara lain:
1. Menemani ibu ke pasar dan belajar berinteraksi
2.Membantu ayah memperbaiki atau memindahkan sesuatu di rumah
3. Terlibat dalam menyiapkan makanan bersama ibu
4. Mengunjungi taman bermain atau ruang terbuka
5. Berkunjung ke perpustakaan
6. Berdiskusi dan membantu menyiapkan kebutuhan camping keluarga
7. Diberikan tanggung jawab menutup atau mengunci pintu rumah
8. Mengetik teks atau paragraf sederhana
9. Kunjungan ke Sawah atau kebun
10. Terlibat sebagai panitia kegiatan ibadah Ramadhan
11. Berkunjung ke masjid besar untuk shalat tarawih dan mendengarkan ceramah
12. Dan berbagai aktivitas positif lainnya
Dalam hal ini, orang tua dan guru seyogianya berperan sebagai fasilitator. Tidak selalu sebagai pengarah yang kaku, tetapi sebagai pendamping yang memberi ruang, kepercayaan, dan contoh nyata dalam mengembangkan potensi anak.
Perlu kita pahami bersama, manfaat dari aktivitas-aktivitas ini tidak hanya dirasakan oleh anak-anak. Para guru, pegawai, dan orang dewasa pun akan merasakan dampak positifnya, khususnya dalam pengembangan keterampilan, ketahanan fisik, kreativitas, serta keseimbangan hidup.
Akhirnya, saya berharap masa liburan ini tidak menjadi masa jeda dari nilai-nilai kebaikan, melainkan menjadi waktu subur untuk menumbuhkan karakter, tanggung jawab, dan semangat belajar yang utuh—di rumah, di masyarakat, dan di hadapan Allah Subhanahu Wa ta’ala
Semoga Allah memberkahi setiap langkah kecil yang kita niatkan sebagai bagian dari pendidikan dan pengabdian.







