Wawancara Eksklusif redaksi wahdahedumgaz.com (Anwar Aras)
LAMPUNG WAHDAHEDUMAGZ.COM Pada bagian ketiga tulisan ini, redaksi mengulas perjalanan hidup Prof. Dr. Hj. Siti Patimah, S.Ag., M.Pd., Guru Besar UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Sosok ibu ini dikenal sebagai perempuan tangguh yang mampu membangun karier akademik sekaligus kehidupan keluarga dengan kemandirian penuh, tanpa bergantung pada beasiswa maupun kemewahan fasilitas.
Di lingkungan akademik, khususnya di Program Doktoral Universitas Islam Annur Lampung, beliau akrab disapa “Bunda Prof” oleh para mahasiswa. Julukan itu bukan sekadar panggilan, melainkan cerminan kedekatan, keteladanan, dan keteguhan karakter yang melekat dalam dirinya.
Sejak awal perjalanan hidupnya, Prof. Siti Patimah menanamkan satu prinsip mendasar: hidup harus dijalani secara mandiri baik secara ekonomi, mental, maupun spiritual. Prinsip inilah yang terus menempa dirinya, menguatkan langkahnya dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan, sekaligus mengantarkannya bangkit dan bertahan hingga berada pada posisi akademik tertinggi.
Sebagai seorang ibu dari 4 putra dan putri ini,, Prof. Siti Patimah menjalani peran ganda: menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Ia tidak pernah memilih jalan instan. Sejak muda, ia terbiasa bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga dan menyelesaikan pendidikannya.
Berbagai usaha pernah digelutinya. Dari beternak ayam, berdagang di pasar, hingga membuka usaha konveksi bersama rekan-rekannya. Bahkan, ia rela menjual satu-satunya tanah yang dimiliki untuk dijadikan modal usaha demi keberlangsungan hidup dan pendidikan anak-anaknya.
Tahun 2005 menjadi salah satu masa terberat, ketika wabah flu burung menyebabkan kerugian besar. Banyak ternak mati, modal usaha lenyap. Namun, kegagalan itu tidak membuatnya berhenti. Ia memulai kembali dari nol, berulang kali, tanpa keluh kesah.
Pernah Jatuh, Namun Tidak Pernah Menyerah
Ujian hidup datang silih berganti. Prof. Siti Patimah pernah berada di puncak keberhasilan ekonomi—memiliki usaha besar, kendaraan, dan rumah—namun juga pernah terpuruk hingga kehilangan segalanya. Ia pernah tertipu dalam bisnis hingga mengalami kerugian miliaran rupiah.
Dalam kondisi terjatuh dan tanpa kepastian ekonomi, ia tetap memilih untuk tenang dan berserah diri. Baginya, kehilangan harta bukanlah akhir segalanya.
“Ketika Allah mengambil harta saya, entah lewat pinjaman yang tidak kembali atau ditipu orang, saya yakin itu tanda kasih sayang Allah,” ungkapnya dengan keyakinan yang teguh.
Ia meyakini bahwa harta yang hilang adalah cara Allah membersihkan beban hisab di akhirat kelak. Prinsip inilah yang membuatnya tetap mampu beribadah dengan khusyuk, meski dalam kondisi sulit, bahkan ketika harus meminjam untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan.
Pendidikan Anak sebagai Prioritas Utama
Di tengah keterbatasan, satu hal yang tidak pernah dikompromikan adalah pendidikan anak-anaknya. Sejak dini, ia selalu berdialog dengan anak-anaknya tentang cita-cita. Salah satu putrinya, Salwa, sejak SD telah bercita-cita menjadi dokter.
Dengan penuh kesungguhan, Prof. Siti Patimah mulai menghitung dan mempersiapkan biaya pendidikan kedokteran, meski kondisi ekonomi belum mapan. Perjuangan itu berbuah manis. Putrinya berhasil menjadi dokter lulusan UIN Jakarta dan kini mendampingi suami yang juga seorang dokter TNI Angkatan Udara, bertugas di Merauke.
Anak-anak lainnya pun tumbuh mandiri, saling menguatkan, dan memiliki kesadaran untuk bertanggung jawab satu sama lain. Namun, bagi Prof. Siti Patimah, kemandirian anak bukan alasan untuk melepaskan tanggung jawab sebagai orang tua. Selama masih mampu, ia tetap berusaha membiayai pendidikan anak-anaknya.
Makna Syukur dan Ikhlas dalam Kehidupan
Bagi Prof. Siti Patimah, ukuran kesabaran dan keikhlasan seseorang terletak pada sikap yang sama saat diuji dan saat diberi kebahagiaan. Ketika berada di atas, ia tidak sombong. Saat jatuh, ia tidak mengeluh.
“Kita lahir tidak membawa mobil atau rumah. Pernah kaya, pernah jatuh, dan kembali sederhana—semuanya biasa saja,” ujarnya.
Pola pikir positif inilah yang menjadikannya sosok yang kuat, tegar, dan penuh rasa syukur dalam setiap keadaan.
Mengabdi Tanpa Pamrih di Dunia Pendidikan
Sebagai akademisi, Prof. Siti Patimah tidak pernah membatasi pengabdiannya pada ruang kampus semata. Ia aktif berbagi ilmu ke sekolah-sekolah swasta yang minim fasilitas dan dana. Tanpa mempersoalkan honor, ia siap hadir memberikan pendampingan, pelatihan kurikulum, manajemen sekolah, hingga penguatan kepemimpinan pendidikan.
Ia juga menjadi narasumber tetap di berbagai majelis taklim, organisasi pendidikan, dan forum daring, baik di Jawa Barat maupun wilayah lainnya. Semua dilakukan dengan satu niat: menyebarkan ilmu sebagai amal jariyah.
Bahkan hingga kini, di usia yang tidak lagi muda, ia terus memperbarui pengetahuan dengan mengikuti berbagai pelatihan demi menjaga relevansi keilmuan dan pengabdiannya.
Menjaga Idealisme Pendidikan
Dalam pandangannya, tantangan dunia pendidikan saat ini tidak hanya terletak pada fasilitas, tetapi juga pada idealisme. Ia menyoroti praktik-praktik yang mengikis integritas, termasuk dalam supervisi dan pengawasan sekolah.
Ia menekankan pentingnya keteladanan, kejujuran, dan keberanian moral dalam menjalankan amanah pendidikan. Menurutnya, pendidikan hanya akan bermakna jika dijalankan dengan niat lurus dan keberpihakan pada kemajuan generasi.
Kisah hidup Prof. Dr. Hj. Siti Patimah bukan sekadar tentang keberhasilan akademik, tetapi tentang keteguhan iman, kemandirian ekonomi, ketulusan mendidik, dan keberanian bangkit dari keterpurukan.
Ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih cita-cita, dan bahwa keberkahan hidup terletak pada kesungguhan berjuang serta keikhlasan berbagi.







