Oleh: Nursalam Siradjuddin (Ketua LPYP)
Data terbaru dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah per Oktober 2025 mencatat bahwa jumlah anak inklusi di Indonesia mencapai sekitar 245 ribu lebih siswa yang tersebar di berbagai jenjang pendidikan.
Di tingkat PAUD tercatat sekitar 18.700 anak, pendidikan dasar (SD dan SMP) sekitar 67.800 anak, pendidikan menengah sekitar 151.700 anak, serta pendidikan masyarakat (termasuk PKBM dan nonformal) sekitar 6.900 anak.
Angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya ada anak-anak dengan harapan, keluarga dengan doa, dan orang tua yang menginginkan pendidikan terbaik bagi buah hati mereka. Bahkan, angka tersebut diyakini belum sepenuhnya menggambarkan kondisi riil di lapangan, karena masih ada orang tua yang belum melaporkan kondisi anaknya.

Melihat realitas ini, Wahdah Islamiyah sebagai lembaga dakwah dan pendidikan merasa terpanggil untuk menghadirkan solusi nyata melalui pendirian Sekolah Inklusi Wahdah Islamiyah.
Apa Itu Sekolah Inklusi?
Sekolah inklusi adalah sekolah yang disiapkan untuk menerima dan melayani semua siswa, baik yang berkembang secara umum maupun yang memiliki kebutuhan khusus. Anak-anak dengan disabilitas, tuna rungu, ADHD, hiperaktif, maupun kebutuhan khusus lainnya, belajar bersama dengan anak-anak yang berkembang secara normal dalam satu lingkungan pendidikan yang sama.
Namun, penting dipahami bahwa sekolah inklusi bukanlah sekolah yang “menitipkan” satu atau dua anak berkebutuhan khusus di kelas reguler tanpa sistem yang memadai. Sekolah inklusi yang dirancang Wahdah Islamiyah akan memiliki sistem pendukung yang kuat, termasuk:1.Rekrutmen guru khusus
2.Pelatihan intensif bagi tenaga pendidik
3.Kehadiran guru pendamping (shadow teacher) di kelas
4.Penyesuaian metode pembelajaran sesuai kebutuhan anak

Dalam satu kelas, tidak hanya ada satu guru. Akan ada lebih dari satu pendidik yang memastikan setiap anak mendapatkan perhatian dan dukungan yang layak.
Menghapus Kekhawatiran, Membangun Kepercayaan
Sebagian orang tua mungkin memiliki kekhawatiran: apakah anak-anak berkebutuhan khusus akan mengganggu proses belajar? Apakah anak-anak reguler akan terdampak?
Kekhawatiran itu wajar. Namun justru di sinilah peran sistem inklusi yang terstruktur. Dengan adanya guru pendamping dan metode yang tepat, proses pembelajaran tetap kondusif.

Bahkan, anak-anak yang tumbuh bersama dalam keberagaman akan belajar nilai empati, kesabaran, dan kepedulian sosial sejak dini.
Sekolah inklusi bukan tempat yang memisahkan, melainkan tempat yang menyatukan.
Urgensi Sekolah Inklusi Berbasis Nilai Islam
Mengapa Wahdah Islamiyah perlu mendirikan sekolah inklusi?
Pertama karena Islam menekankan kasih sayang, pengasuhan, dan kesetaraan. Tidak boleh ada anak yang direndahkan atau dikatakan memiliki “kekurangan”. Setiap anak adalah amanah dan memiliki potensi.
Kedua meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya inklusi. Sekolah inklusi bukan hanya tempat belajar, tetapi juga pusat edukasi sosial tentang menerima perbedaan sebagai sunnatullah.
Ketiga, menyediakan akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang mungkin tidak terakomodasi secara optimal di sekolah reguler. Dengan jumlah yang semakin besar, dibutuhkan institusi yang memang dirancang secara khusus untuk mereka.

Keempat, membangun masyarakat yang inklusif. Anak-anak yang sejak kecil terbiasa hidup dan belajar dalam keberagaman akan tumbuh menjadi generasi yang lebih terbuka dan menerima perbedaan.
Inklusi dan Al-Qur’an: Membangun Percaya Diri Anak
Salah satu visi yang diharapkan adalah menghadirkan sekolah inklusi berbasis Al-Qur’an. Anak-anak, baik yang reguler maupun berkebutuhan khusus, tetap mendapatkan pendidikan keislaman dan kesempatan menghafal Al-Qur’an.
Bahkan, anak tuna rungu pun memiliki potensi untuk menghafal Al-Qur’an dengan metode yang tepat. Ini bukan sekadar wacana, tetapi telah terbukti di berbagai tempat.
Yang terpenting, sekolah ini ingin membangun kesadaran dan kepercayaan diri anak-anak berkebutuhan khusus bahwa mereka tidak lebih rendah dari siapa pun. Mereka memiliki kelebihan dan potensi yang bisa berkembang jika diberi ruang dan pendampingan yang tepat.
Komitmen pada Profesionalisme
Persiapan guru menjadi perhatian utama. Tidak semua guru bisa langsung menangani pendidikan inklusi tanpa pelatihan. Karena itu, Wahdah Islamiyah akan:
Merekrut tenaga pendidik secara khusus
Memberikan pelatihan sesuai kebutuhan anak
Menyediakan guru pendamping di setiap kelas
Ini bukan sekadar program, melainkan komitmen jangka panjang untuk menghadirkan pendidikan yang rahmatan lil ‘alamin pendidikan yang menjadi rahmat bagi semua.
Menjadi Bagian dari Solusi
Pendirian Sekolah Inklusi Wahdah Islamiyah adalah bagian dari ikhtiar dakwah di bidang pendidikan. Dakwah bukan hanya mimbar dan ceramah, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi persoalan umat.
Anak-anak berkebutuhan khusus bukan beban. Mereka adalah amanah. Dan amanah itu harus dijaga dengan sistem pendidikan yang penuh kasih, profesional, dan berlandaskan nilai Islam.

Dengan semangat ini, Wahdah Islamiyah ingin menghadirkan sekolah yang tidak membedakan, tidak mendiskriminasi, dan tidak meninggalkan siapa pun.
Karena setiap anak berhak tumbuh, belajar, dan bermimpi.







