Oleh: Anwar Aras

Muhammad Fauzan Azima, atau yang akrab disapa Ustadz Fauzan, merupakan sosok yang turut serta membersamai perjalanan MI Al Wahdah Sleman hingga berkembang seperti saat ini. Meski berasal dari Pulau Bali, takdir Allah menuntunnya menetap di Yogyakarta sejak menempuh studi di Universitas Islam Indonesia (UII) sekitar 15 tahun yang lalu.
Di Yogyakarta, Ustadz Fauzan membangun keluarga dan meneguhkan pilihan hidup untuk berjuang di jalan dakwah pendidikan. Sejak bergabung dengan Wahdah Islamiyah pada tahun 2013, ia meyakini pendidikan sebagai sarana dakwah yang paling strategis dan berjangka panjang dalam membangun peradaban.

Ketertarikannya pada dunia pendidikan telah tumbuh sejak masa kuliah. Pengalaman mengajar anak-anak dan berinteraksi dengan orang tua di lapangan menumbuhkan kesadaran bahwa pendidikan bukan sekedar transfer ilmu, tetapi proses pembentukan karakter, adab, dan generasi mental.
Meski berlatar belakang pendidikan dari kampus ternama dan memiliki peluang karir maupun studi lanjut, Ustadz Fauzan memilih jalan yang penuh tantangan. Ia terjun bahkan langsung mengajar murid-murid angkatan pertama MI Al Wahdah Sleman saat jumlah siswa masih belasan.
Dengan latar belakang psikologi, Ustadz Fauzan memberikan perhatian besar pada dinamika perilaku siswa. Ia terlibat langsung dalam pengelolaan komposisi kelas, mencoba berbagai pendekatan agar menumbuhkan keseimbangan antara kompetisi, adab, dan interaksi sosial siswa.
Dalam kepemimpinannya, MI Al Wahdah Sleman terus berbenah, baik dari sisi akademik, karakter, maupun fasilitas. Pemanfaatan dana dari sumber-sumber yang ada didukung kemitraan dengan dinas, komite, dan masyarakat, serta kolaborasi dari tim guru, yayasan, dan lainnya untuk meningkatkan kenyamanan belajar tanpa menghilangkan penghematan dan keterjangkauan biaya.

Bagi Ustadz Fauzan, perjuangan di MI Al Wahdah bukan sekadar tugas profesional, melainkan jalan hidup dan ladang ibadah. Ia meyakini, selama pendidikan dijalankan dengan niat dakwah dan bermanfaat untuk semua, Allah akan mumadahkan dan mencukupkan.
“Bismillah, selama kita yakin ini jalan dakwah, Allah cukupkan,” ujarnya.







