Oleh: Nursalam Siradjuddin
Ketua LPYP DPP Wahdah Islamiyah
Menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) SD dan SMP atau sederajat yang diselenggarakan berlangsung pada bulan Februari 2026, berbagai perasaan wajar muncul di benak para peserta didik. Cemas, gelisah, bahkan takut menghadapi ujian adalah hal yang manusiawi.
Namun perasaan tersebut perlu dikelola dengan baik agar tidak hanya menghambat konsentrasi dan kinerja belajar anak-anak.
Perlu dipahami bersama bahwa TKA bukanlah penentu nilai diri seorang anak. Tes ini hanyalah potret dari proses belajar yang telah dilalui, sekaligus sarana untuk mengukur sejauh mana kemampuan akademik berkembang. TKA tidak mendefinisikan masa depan, apalagi menentukan kualitas pribadi seorang peserta didik. Ia adalah bagian dari proses pendidikan yang seharusnya menghadap secara proporsional, tenang, dan penuh kesadaran.
Dalam hal ini, kesiapan mental sama pentingnya dengan penguasaan materi. Anak-anak perlu diyakinkan bahwa ujian bukanlah momok yang harus ditakuti, melainkan tantangan yang dapat dilalui dengan strategi yang tepat dan sikap yang positif.
Ada beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan agar siswa mampu menghadapi TKA dengan lebih tenang dan efektif.
Pertama , persiapan sebaiknya dilakukan secara bertahap dan konsisten. Mengulang materi penting selama 20–30 menit setiap hari jauh lebih efektif dibandingkan belajar saat menjelang ujian. Pola belajar seperti ini membantu otak menyimpan informasi dengan lebih baik dan mengurangi kelelahan mental.
Kedua , ketelitian dalam membaca soal menjadi kunci utama. Banyak kesalahan yang terjadi bukan karena tidak memahami materi, melainkan karena kurang cermat membaca pertanyaan. Oleh karena itu, siswa perlu membiasakan diri membaca soal hingga tuntas, terutama pada pertanyaan yang mengandung kata kunci seperti “kecuali” atau “yang tidak termasuk”.
Ketiga, waktu pengelolaan harus dilakukan dengan bijak. Siswa dianjurkan mengerjakan soal yang dianggap mudah terlebih dahulu, lalu menandai soal yang sulit untuk dikerjakan kembali jika waktu memungkinkan. Terlalu lama menonton satu soal justru berpotensi mengganggu penyelesaian soal lainnya.
Keempat , dalam kondisi ragu, metode eliminasi dapat digunakan. Dengan mengesampingkan pilihan jawaban yang paling tidak logis, peluang memilih jawaban yang benar akan semakin besar. Terakhir, sisa waktu di akhir ujian hendaknya dimanfaatkan untuk memeriksa kembali jawaban serta memastikan identitas telah terisi dengan benar.
Selain aspek teknis, kondisi fisik dan mental siswa juga memegang peranan penting. Tidur yang cukup, sarapan bergizi, serta menjaga ketenangan batin akan sangat mempengaruhi daya konsentrasi. Otak bekerja optimal ketika tubuh berada dalam kondisi prima. Di sisi lain, doa dan restu orang tua merupakan sumber ketenangan yang sering kali menjadi penguat mental anak-anak saat menghadapi ujian.
Harapannya, para peserta didik dapat menghadapi TKA 2026 dengan sikap positif, percaya diri, dan penuh optimisme. Anak-anak telah melalui proses belajar yang panjang dan berjuang sejauh ini. Apa pun hasil yang diperoleh nantinya, usaha, kedisiplinan, dan kesungguhan mereka adalah pencapaian yang patut diapresiasi sebagai bagian dari proses tumbuh dan belajar.







