Sinergi LPYP Wahdah Islamiyah dan Unissula Menuju Standardisasi Pendidikan Dakwah

Di tengah tuntutan profesionalisme dan akuntabilitas publik, kolaborasi LPYP Wahdah Islamiyah dan Unissula melalui Program RPL menunjukkan bahwa gerakan dakwah dapat bertransformasi secara modern tanpa kehilangan jati diri.

Oleh: Nursalam Siradjuddin
Ketua LPYP Wahdah Islamiyah

SEMARANG  WAHDAHEDUMGAZ.COM – Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Lembaga Pembinaan Yayasan Pendidikan (LPYP) Wahdah Islamiyah dan Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang menandai babak baru dalam penguatan sumber daya manusia (SDM) pendidikan dan dakwah Wahdah Islamiyah. Kerja sama ini tidak sekadar bersifat administratif, tetapi merupakan langkah strategis dalam menjawab tantangan profesionalisme dan standardisasi pendidikan Islam di Indonesia.

Melalui penyelenggaraan Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), pengalaman panjang para guru dan dai Wahdah Islamiyah baik dalam pengajaran, pelatihan, maupun pengabdian masyarakat—mendapatkan pengakuan akademik yang sah dan terukur. Skema ini memungkinkan konversi pengalaman tersebut ke dalam Satuan Kredit Semester (SKS), sehingga proses meraih gelar sarjana maupun pascasarjana dapat ditempuh secara lebih efisien dan relevan.

Bagi LPYP Wahdah Islamiyah, RPL bukanlah jalan pintas akademik, melainkan mekanisme negara untuk mengakui kompetensi riil di lapangan. Banyak dai dan guru Wahdah Islamiyah yang telah mengabdi puluhan tahun, memiliki kapasitas pedagogik dan kepemimpinan yang kuat, namun belum terdokumentasi dalam sistem pendidikan formal. RPL menjadi jembatan antara realitas pengabdian dan legitimasi akademik.

Pihak Unissula, yang diwakili oleh Dekan Fakultas Agama Islam Unissula (Periode 2026) Assoc. Prof. Dr. Agus Irfan, M.Pi, menyambut kolaborasi ini sebagai bagian dari visi besar Unissula dalam membangun generasi khairu ummah, mengembangkan IPTEK bernilai Islam, dan memperkuat peradaban Islam menuju masyarakat sejahtera. Sinergi ini mempertemukan dunia akademik dan gerakan dakwah dalam satu ekosistem pendidikan Islam yang saling menguatkan.

RPL sebagai Lompatan Manajerial SDM

Kerja sama LPYP Wahdah Islamiyah–Unissula menghadirkan sejumlah nilai strategis yang berdampak langsung pada tata kelola SDM dan mutu lembaga pendidikan di bawah naungan Wahdah Islamiyah:

Pertama, akselerasi formalisasi kompetensi.
RPL memangkas sekat antara pendidikan non-formal dan formal. Pengalaman dakwah dan pendidikan yang selama ini bersifat praksis kini memperoleh pengakuan legal-formal, sehingga memperkuat posisi kelembagaan Wahdah Islamiyah dalam relasi dengan pemerintah, baik Kemendikbudristek maupun Kemenag.

Kedua, peningkatan mutu dan akreditasi satuan pendidikan.
Kualifikasi akademik guru merupakan indikator krusial dalam akreditasi sekolah dan pesantren. Dengan meningkatnya jumlah tenaga pendidik yang linier dan tersertifikasi secara akademik, mutu kelembagaan LPYP akan terdongkrak secara signifikan, berdampak pada kepercayaan publik dan kualitas lulusan.

Ketiga, efisiensi investasi SDM.
RPL menjawab problem klasik pendidikan lanjutan bagi guru dan dai: keterbatasan waktu dan biaya. Masa studi yang lebih singkat memungkinkan peningkatan kualifikasi tanpa harus mengorbankan tugas dakwah dan pengajaran, sekaligus menghemat anggaran lembaga.

Keempat, keselarasan nilai dan budaya akademik.
Pemilihan Unissula sebagai mitra strategis menunjukkan kesadaran akan pentingnya cultural fit. Proses akademik berjalan seiring dengan nilai-nilai Islam, sehingga penguatan metodologi keilmuan modern tetap berada dalam bingkai manhaj yang sejalan dengan Wahdah Islamiyah.

Kelima, penguatan motivasi dan loyalitas SDM.
Akses terhadap pendidikan tinggi merupakan bentuk penghargaan jangka panjang bagi para pengabdi. Ini bukan hanya meningkatkan kapasitas intelektual, tetapi juga memperkuat rasa memiliki, loyalitas, dan motivasi kerja guru serta dai Wahdah Islamiyah.

Di tengah tuntutan profesionalisme dan akuntabilitas publik, kolaborasi LPYP Wahdah Islamiyah dan Unissula melalui Program RPL menunjukkan bahwa gerakan dakwah dapat bertransformasi secara modern tanpa kehilangan jati diri. Inilah ikhtiar strategis untuk memastikan bahwa pengabdian yang tulus diakui, kompetensi yang nyata dilegitimasi, dan masa depan pendidikan Islam dikelola secara berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *