Cita Cita Kembali Jadi Guru Ngaji

Secara sosial, guru ngaji adalah penjaga peradaban yang sering dilupakan. Ia tidak membangun gedung megah, tetapi membangun karakter.

Oleh Syekh Ahmad Thoyyib (Grand  Syekh Al Azhar)

 

Kalimat ini lahir dari kesadaran yang jarang dimiliki banyak orang.

Di saat dunia berlomba mengejar posisi, gelar, dan kehormatan, ada jiwa yang justru ingin turun ke lantai paling sunyi dari peradaban ilmu.

Menjadi guru ngaji Al Qur’an di Kuttab atau TPQ bukan sekadar pilihan profesi, melainkan sikap batin.

Ia adalah keputusan untuk melepaskan diri dari kebanggaan dunia demi menanamkan cahaya pada hati yang masih bening. Keinginan ini bukan mundur, melainkan pulang ke asal makna.

Secara filosofis, meninggalkan kursi yang dianggap tinggi demi duduk di hadapan anak yang mengeja huruf demi huruf adalah puncak kematangan jiwa.

Dunia mengajarkan bahwa nilai seseorang diukur dari siapa yang ia pimpin, sementara Al Qur’an mengajarkan bahwa kekayaan lahir dari siapa yang ia tuntun menuju cahaya.

Mengajar ngaji adalah kerja sunyi yang buahnya tidak langsung tampak, namun akarnya menembus zaman.

Satu huruf yang diajarkan dengan ikhlas bisa hidup lebih lama daripada seribu pidato yang dielu elukan.

Dari sisi spiritual, cita cita ini menunjukkan pemahaman yang jernih tentang warisan sejati.

Jabatan, gelar, dan pengaruh akan berakhir bersama napas terakhir, tetapi bacaan Al-Qur’an yang melekat di lisan murid akan terus mengalirkan pahala selama ayat itu dibaca.

Guru ngaji mungkin tidak dikenal di dunia, namun namanya ditulis rapi dalam catatan langit.

Ia bekerja bukan untuk dikenang, tetapi untuk menghidupkan kalam Tuhan di dada manusia.

Secara sosial, guru ngaji adalah penjaga peradaban yang sering dilupakan. Ia tidak membangun gedung megah, tetapi membangun karakter.

Ia tidak membentuk elit, tetapi menyiapkan generasi yang tahu arah sujudnya.

Dalam masyarakat yang semakin bising karena ambisi, kehadiran guru ngaji adalah oase kesadaran. Ia mengajarkan pelan pelan, namun dampaknya mengubah arah hidup seseorang seumur hidup.

Doa yang menyertai cita cita ini adalah doa orang yang telah berdamai dengan kefanaan.

Meminta agar Allah mewujudkannya sebelum ajal datang bukan karena takut mati, tetapi karena rindu berkhidmat.

Jika kelak cita-cita itu terwujud, itu bukan kenaikan, melainkan penurunan yang dimuliakan. Dan jika belum terwujud, niat yang jujur ​​itu sendiri telah menjadi amal yang dicatat.

Sebab di sisi Allah, nilai seorang hamba bukan pada tinggi rendahnya kedudukannya, melainkan pada keikhlasan arah hidupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *