Wawancara Redaksi Wahdahedumagz.com (Anwar Aras)
LAMPUNG WAHDAHEDUMAGZ.COM – Nilai kemandirian dan etos belajar yang ditanamkan ayah dan ibu menjadi fondasi utama perjalanan akademik Prof. Patimah. Meski hidup serba kekurangan, semua saudara diwajibkan mencapai prestasi setinggi mungkin. “Ayah selalu bilang, kalau ayah sudah tidak ada, jangan berhenti sekolah. Banyak yatim piatu yang bisa sukses, masa kalian tidak bisa.
Pesan ayah itu terus terngiang hingga kini. Ia selalu berkata, “Jangan malu jika tidak punya baju bagus, rumah bagus, anting, tas, atau sepatu yang bagus. Malulah jika kamu tidak bersekolah, karena hanya pendidikan yang dapat mengubah hidupmu.”
Kalimat itu bukan sekadar nasihat, melainkan doa yang berulang-ulang ditanamkan. Setiap subuh, ayah membangunkan kami dengan membuka jendela rumah, mengingatkan waktu salat, sekaligus menanamkan nilai kehidupan yang kelak membentuk jalan hidup kami.
Di saat yang sama, ibu menyempurnakan didikan itu dengan kelembutan. Dengan suara pelan ia berkata,
“Ayo bangun salat subuh. Malaikat sedang menanti kita. Jangan bodoh seperti ibu yang tidak bisa membaca dan menulis. Jadilah anak-anak yang ibu banggakan.”
Dari dua suara itulah ketegasan ayah dan kelembutan ibu nilai hidup tentang iman, ilmu, dan harga diri tertanam kuat sejak dini.
Kata-kata itu mengakar kuat dalam dirinya. Sejak remaja, ia bekerja sambil sekolah. Jarak rumah ke sekolah ditempuh dengan berjalan kaki. Setiap hari ia menjual keripik singkong dari kelas ke kelas, menggantikan uang transport yang tidak dimiliki. “Sering diledek, tapi aku tidak pernah minder.”
Prestasinya di sekolah juga gemilang. Ia sering menjuarai berbagai lomba, termasuk lari 100 meter tingkat Bandar Lampung, hingga menjadi juara nasional dalam lomba pendidikan yang diadakan Ibu Tien Soeharto. “Ibu selalu bilang saya akan menjadi haji pertama di keluarga, dan itu terjadi. Berkali-kali saya berangkat haji karena tugas, bukan biaya sendiri.”
Perjalanan pendidikan tidak ada hentinya. Ia menyelesaikan S2 di Universitas Lampung (Unisula) merupakan Universitas Negeri pertama dan tertua hanya tempo 1 tahun 8 bulan, Prodi Teknologi Pendidikan dan bunda angkatan pertama lulus terbaik, dan tercepat tahun 2003. Perjuangan berat karena membantu pekerjaan teman-teman dan pejabat yang meminta bantuannya. Dari situ, mereka bergotong-royong membantu membayar SPP-nya. Ia bahkan menerima beasiswa S3 di UIN Yogyakarta, tetapi harus menunda karena baru diangkat menjadi PNS saat itu ada pengabdiannya.
Setelah beberapa tahun berlalu, ia diterima S3 di Universitas Pendidikan (UPI) Bandung tahun 2005, sambil membawa anaknya yang berjumlah tujuh baru berusia sebulan. Untuk biaya, ia menjual berbagai barang dan anak-anaknya ikut berjualan donat. “Alhamdulillah, saya menyelesaikan program doktor dalam satu tahun sepuluh bulan, dengan IP hampir sempurna.”,pungkasnya. Bunda Prof menyelesaikan Program Doktoralnya dengan jurusan Manajemen Pendidikan tahun 2007.
Kini, Prof. Patimah telah menjadi ilmuwan yang berpengaruh terutama di bidang Manajemen Pendidikan. Ia pernah menjadi pengawas di beberapa kabupaten dan provinsi, serta aktif memberikan pelatihan pendidikan di berbagai daerah. Banyak sekolah swasta yang meminimalkan dana yang dikeluarkannya secara sukarela. “Kalau mereka butuh ilmu tentang sinkronisasi, manajemen, atau pengembangan kapasitas guru, saya siap berbagi. Saya terus ikut pelatihan agar tetap update, meski usia bertambah.”
Meski berada di posisi terhormat, ia tidak pernah melupakan akar perjuangannya: kemandirian, kerja keras, dan kejujuran. Hidupnya adalah proses yang panjang untuk bermanfaat. “Saya selalu bilang ke siapa pun: kalau saya bisa, orang lain pun bisa. Tidak ada hidup yang terlalu berat kalau kita mau berjuang.”
Tulisan bagian tiga dengan judul https: https://wahdahedumagz.com/bagian-3-prof-dr-hj-siti-patimah-menapaki-karier-dengan-kemandirian-keteguhan-iman-dan-ketulusan-mengabdi/







