Cerita Orangtua : Anak Sulung Dwi Hudiyono Tuntaskan Hafalan 30 Juz di Usia 16 Tahun

Berikuti kisah sekelumit dari Orang Tua santri Dwi Hudiyono seorang dai Wahdah Islamiyah sekaligus penyuluh Agama di Kantor Urusan Agama (KUA) di Banggai. Sultengf. Bulan lalu anak pertamanya (16 tahu selesaikan hafalan Qur’an 30 juz di Ponpes Tahfid Putri Wahdah Islamiyah di Daya Makassar, Salahsatu dari tiga Ponpes yang dinaungi langsung oleh Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI) Pusat Makassar. 

 

Kontributor : Nurjannah

 

BANGGAI WAHDAHEDUMAGZ.COM – Ananda Aisyah binti Dwi Hudiyono, santri kelas XI SMA, resmi menyelesaikan setoran hafalan Al-Qur’an 30 juz setelah menempuh proses tahfidz selama tiga tahun sejak duduk di bangku SMP. Pencapaian ini disampaikan langsung oleh kedua orang tuanya, Dwi Hudiyono dan Shanty Adam, yang berdomisili di Banggai, Sulawesi Tengah, saat dihubungi tim redaksi Wahdahedumagz.com.

Aisyah menjalani pendidikan tahfidz di sebuah pondok tahfidz putri yang sederhana, namun dikenal dengan suasana pembinaan yang intensif. Dalam prosesnya, ia dibimbing oleh para ustadzah dan muhafidzat yang mendampingi secara konsisten melalui halaqah Qur’an harian.

“Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimush-shalihat. Dengan pertolongan Allah, Aisyah dapat menyelesaikan hafalan 30 juz. Kami berterima kasih kepada para ustadzah, muhafidzat, serta seluruh pengelola pondok yang membimbing dengan penuh kesungguhan,” ujar Dwi Hudiyono, ayah Aisyah yang juga penyuluh agama di Kantor Urusan Agama (KUA) Banggai, Luwuk Selatan.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan tersebut merupakan buah dari ketekunan Aisyah serta usaha keras para pembimbing pondok, termasuk mereka yang sebelumnya pernah mengajar namun kini tidak lagi bertugas. “Semoga hal ini menjadi asbab kebaikan dan pahala bagi para guru dan seluruh pengelola PPTQ Wahdah Putri serta Yayasan Pendidikan Wahdah Islamiyah,” ujarnya.

Perjuangan Keluarga dalam Pendidikan Tahfidz

Dwi mengakui bahwa perjalanan pendidikan tahfidz memerlukan komitmen dan pengorbanan yang besar, khususnya dalam hal pembiayaan. Sebagai seorang dai dan penyuluh agama, ia mengaku biaya pendidikan cukup tinggi, terlebih karena tiga dari empat anaknya juga sedang menempuh pendidikan di Pondok Tahfidz Wahdah Islamiyah Makassar.

Masukan buat pengelola pondok agar bisa membenahi secara bertahap fasilitas pondok yang bisa mengurangi kenaymaman santri untuk belajar. Ia berharap ke depan pondok putri dapat memiliki gedung yang lebih layak dan aman untuk kegiatan belajar para santri.

Harapan Orangtua ke Depan

Saat ini, keempat anaknya menempuh pendidikan di lembaga Wahdah Islamiyah: dua di PPTQ Putri WI Daya, satu di PPTQ Putra Bilayya, dan si bungsu di SDIT kelas lima. Keberhasilan Aisyah menjadi penyemangat bagi keluarga besar ini untuk terus mendukung pendidikan Al-Qur’an.

Dwi Hudiyono berharap anak-anaknya kelak dapat melanjutkan studi ke IAI STIBA Makassar, serta mendoakan agar dari lembaga tahfidz tempat putrinya belajar lahir generasi penghafal Al-Qur’an yang berakhlak, beradab, dan berilmu.

“Kami berharap semakin banyak huffadz dan huffadzah yang tidak hanya kuat hafalannya, tetapi juga unggul dalam akhlak dan keilmuan,” pungkasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *